Showing posts with label kuno-kini. Show all posts
Showing posts with label kuno-kini. Show all posts

Jengki

Author: Therich Ninung / Label

Tessy, anggota Sri Mulat, menyebut mereka yang AC-DC, cowok sekaligus cewek, “jengki.” Maksudnya pastilah seseorang yang seperti sepeda Jengki, bisa dinaiki laki-laki maupun perempuan. Sebelum tahun enampuluhan, hanya ada dua jenis sepeda. Sepeda onthel laki-laki dan sepeda onthel perempuan. Sepeda laki-laki ada “planthang”- nya, sedangkan sepeda perempuan tidak. Desain bagian depan sepeda perempuan melengkung. Pada paruh terakhir tahun enampuluhan hingga tahun tujuh puluhan, muncullah sepeda yang lebih pendek dan prekis, dengan desain bagian depannya tidak melengkung tetapi lurus. Model sepeda ini oleh masyarakat dianggap netral, bisa untuk laki-laki ataupun perempuan. Itulah sepeda Jengki yang kemudian populer sekali.

Tapi, mengapa selain sepeda Jengki kita juga mengenal rumah jengki, kursi jengki, meja jengki, tempat tidur jengki, dan lain-lain?

Terror

Author: Therich Ninung / Label


Terror tidak harus berkaitan dengan para teroris yang diduga bakal meledakkan bom. Sesuatu yang mencekam dan membuat trauma dan ketakutan yang berkepanjangan, bisa saja disebut teror. Begitu pula usaha menakut-nakuti seseorang. Ini sih, definisi pribadi, bukan definisi ilmiah dari kacamata psikologi atau semacamnya.

Teror tidak pula musti berasal dari para separatis atau mereka yang punya misi jihad. Teror bahkan bisa ditebarkan oleh orang tua sendiri. Hi, ngeri. Mana ada teror seperti itu? Ada. Terlebih, tempo doeloe. Tepatnya, sebelum tahun delapanpuluhan, ketika ortu belum begitu well-informed tentang perkembangan jiwa anak. Teror by ortu tentu saja bukan teror yang deadly, mematikan. And toh, tetap berbahaya karena bisa saja mematikan keberanian anak atau setidaknya menghambat anak tumbuh menjadi pribadi yang mentally sehat atau normal.

Teror kecil-kecilan yang dilakukan ortu jaman dulu beragam. Alasannya pun beda-beda. Ada yang sengaja untuk menakut-nakuti agar anak patuh dan tidak nakal, ada yang sekedar ledekan untuk menggoda si kecil. Contohnya, teror tentang ayah. Para ayah yang kebetulan priyayi atau terhormat di masyarakat seringkali jadi figur yang menakutkan anak-anak, bahkan anak-anak mereka sendiri. Ibulah yang justru sering menteror anak dengan mengatakan, ”Awas.. bapak pulang.” Atau, ketika cari jalan pintas menangani anak yang ngrepoti aktivitas mereka, para ibu sering mengancam, ”Lihat nanti kalau bapak datang, tak bilangin.” Para ibu Yogya sering berkata, ”Mengko tak aturke bapak!”

Bapak. Begitu dengar sebutan itu, anak langsung merasa ngeri. Di benak mereka, bapak adalah sosok yang bakal memarahi, yang galak, yang serem. Banyak anak tidak berani duduk berhadapan dengan ayah mereka. Kalau sampai dipanggil ayah, artinya akan didukani, dimarahi. Diadili berdasar laporan ibu. Boro-boro ngobrol. Begitu ayahnya datang, anak akan langsung menghilang dari peredaran, main bersama anak-anak lain. Pada jaman itu, seorang ayah sering dianggap momok oleh anaknya sendiri.

Teror kecil-kecilan yang acap kali diucapkan seorang ibu sering membuat anak tercekam dan sangat ketakutan bahkan pada ayahnya sendiri. Meskipun fakta menunjukkan si ayah baik dan sayang padanya, anak tetap merasa itu suatu bonus, bukan sikap yang sebenarnya. Begitulah para ibu tempo doeloe, seringkali membiaskan ketakutan dan rasa inferiornya sendiri pada suami.

Teror kecil-kecilan dalam aneka bentuk sering digunakan untuk menakut-nakuti anak-anak agar mereka patuh, tidak rewel, tidak nakal, dan duduk manis tidak ngrepoti. Atau, sekedar untuk menggoda atau ngledekin anak. Ortu sering tidak sadar, yang dilakukannya berefek teror pada anak. Apalagi jika anak itu masih berusia di bawah empat tahun dan kelewat imajinatif.

Sampai sekarang, saya benci pada kambing. Padahal, belum pernah diapa-apakan kambing. Hanya saja, saya selalu merasa tidak happy tiap kali ibu saya mengatakan bahwa saya sebenarnya bukan anaknya melainkan anak wedhus (kambing) Pak Joyo, tetangga kami. Pak Joyo sering menggembalakan kambingnya ke alun-alun yang waktu itu banyak ditumbuhi rumput. Kambing Pak Joyo kumal-kumal, pantatnya ngetepol, dan suaranya”Mbeek... mbek...” Jelek sekali menurut telinga anak kecil. Tiap kali dengar kambing-kambing itu lewat depan rumah, saya selalu sembunyi di kamar mandi atau di bawah dipan. Apalagi kalau mereka berjubelan karena berebut menerobos pagar teh-tehan depan rumah dan memakan tanaman-tanaman yang ada. Biasanya ibu akan berteriak, ”Tuh kamu dijemput... mau diajak pulang... .” Saya ketakutan sekali karena ibu juga pernah berkata bahwa salah satu kambing yang gemuk itu adalah ibu saya yang sebenarnya.

”Lha kok aku di sini?” tanya saya tidak percaya.

“Ibu kasihan aja, maka tak bawa ke sini, tak jadikan anakku. Tuh dia lihat kamu terus...” Sejak itu tiap ada kambing lewat atau lihat kambing, saya selalu ketakutan. Lama-lama jadi takut pada kambing beneran. Bahkan sampai sekarang, nggak suka sama kambing. Kecuali kalau sudah jadi gule.

Gurupun juga sering menteror. Sebutan guru killer populer sekitar tahun delapanpuluhan. Guru killer, guru yang galak dan suka ”ngecing.” Tapi sebelum era itu, banyak guru jauh lebih menyeramkan. Senjata mereka bukan cuma ancamannya tapi juga penghapus, penggaris besar, kapur. KDK... Kekerasan Dalam Kelas tidak jarang terjadi. Alias sering. Bukan bullying oleh teman tapi oleh guru. Kalau ada anak ngobrol atau menga-mengo sedikit saja, langsung dilempar penghapus kepalanya. Atau, guru akan mendekat dan siap menjewer kuping siswa. Perlakuan tidak adil dan pilih kasih kerap dijumpai. Anak-anak dari keluarga yang sangat miskin, anak PRT, dan anak-anak yang memang bandel sering diperlakukan dengan ”istimewa” buruknya oleh guru. Digebuk pakai penggaris besar ketika gagal mengerjakan soal di depan kelas, bukan hal aneh.

Doeloe, teror-teror seperti itu banyak sekali dan ortu tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau anak pulang sekolah menceritakan perlakuan guru, dia justru akan dimarahi orang tuanya karena dianggap dia sendirilah yang bersalah. Akibatnya, banyak anak cabut dari sekolah dan drop out. Lain banget dengan sekarang, guru tidak berani main kayu pada anak. Ortu bisa menuntut.

Ada saudara saya yang seumur hidup tidak berani menemui tamu dan selalu takut pada orang lain karena trauma digebuk guru dan dikata-katai. Dia jadi super inferior dan menarik diri dari pergaulan karena menganggap semua orang jahat. Ketika diperlakukan tidak manusiawi oleh gurunya, dia tengah peka-pekanya karena baru saja ditinggal ibunya menghadap Tuhan. Guru itu tentu saja tidak pernah tahu akibat dari perlakukannya itu.

Ada lagi teror lain yang juga umum di masyarakat. Teror tentang hantu. Agar anak-anak tidak keluyuran di malam hari, begitu Maghrib menjelang, orang tua segera memanggil anak-anak masuk rumah. ”Pulang, nanti ada Candik Ala.” Tanpa penjelasan itu makhluk apa dan seperti apa, ortu begitu saja menakut-nakuti anak-anak Bahkan, sering dengan ancaman yang seram, ”Pulang, sudah malam, nanti digondol Wewe Gombel lho...” Atau, ”Ayo makan, lihat tuh kalau nggak mau... ada putih-putih di sana...”

Bayangkan saja. Dimasa listrik belum ada dan lingkungan masih rungkut pepohonan dan semak, teror ortu seperti itu membuat anak-anak benar-benar ketakutan. Akibatnya, anak jadi penakut. Ke kamar mandi saja minta diantar. Sudah gitu, karena malas ngantar, orang tua jadi marah-marah karena anaknya penakut berat. Lupa kalau mereka sendirilah yang membentuk jadi seperti itu.

Cara untuk mencegah anak-anak main terlalu jauh dari rumah yang sangat populer pada tahun tujuhpuluhan adalah isu penculik. Montor abang atau mobil merah atau truk bertutup terpal dengan ”cap gunting-gunting peso” benar-benar efektif untuk menakut-nakuti anak-anak agar tidak main jauh dari rumah. Cerita yang ditebarkan, keduanya adalah ”Duyung,” penculik anak-anak kecil. Anak-anak akan ditangkapi dan dimasukkan ke mobil merah atau truk bergambar ”Cap gunting- gunting peso.” Kalau sudah tertangkap, anak-anak akan dijadikan tumbal pesugihan. Kedua matanya akan dicungkil, dibuat cendol dawet untuk disajikan di perempatan jalan raya atau jembatan. Anak-anak kecil takut setengah mati pada yang namanya ’duyung’ itu.

Suatu hari, saya dan teman-teman bermain di alun-alun selatan. Waktu itu di tengah alun-alun ada taman lalu lintas, arena bermain anak-anak. Pada sore hari atau hari libur, arena itu dibuka untuk umum. Anak-anak bisa naik sepeda roda tiga atau roda dua yang kecil. Ibu-ibu juga membawa anak-anak mereka yang sedang belajar berjalan ke situ.Tapi karena terbengkelai, taman lalu lintas jadi tidak terawat dan tampak seram. Kalau malam untuk tidur gelandangan. Karenanya, anak-anak tidak boleh main ke situ lagi.

Suatu siang, saya dan teman-teman memanjat pohon untuk memetiki buah Pedang-pedangan karena mau pentas ketoprak-ketoprakan. Tiba-tiba ada mobil merah muncul dari arah barat. Kontan kami bergegas turun. Saking paniknya, kami begitu saja melorot hingga dada kami terbarut-barut batang pohon. Merasa paling besar di antara teman-teman, cepat-cepat saya menyuruh Ika, Darbo, Umi, Putik, Yanto, masuk ke bawah jembatan kecil di arena itu. ”Montor duyung... Montor duyung!” Hampir satu jam kami sembunyi di parit dan menginjak kecebong, berudu katak, dan air kotor di parit itu. Gara-gara takut diculik mobil merah yang berputar-putar mengitari alun-alun mencari anak-anak kecil....

Montor duyung itu akhirnya pergi dan kami pulang dengan ketakutan. Tentu saja kami tidak berani menceritakan kejadian itu pada ortu karena tahu cuma bakal dimarahi karena main jauh dari rumah.

(Setelah kelas tiga SD kami baru tahu mobil merah itu mobil VW kodok milik sebuah kursusan setir mobil)

Teror yang juga sering dilontarkan pada anak-anak adalah kalau nelan biji buah-buahan. Pernah saya tanpa sengaja menelan biji buah Duwet. Kakak sepupu saya langsung menakut-nakuti, ”Dua hari lagi bakal tumbuh di kepalamu... lihat aja sendiri!”

”Iya po?” Kakak tampak serius mengiyakan. Dia tidak pernah tahu bagaimana semalaman saya tidak bisa tidur gara-gara tiap kali meraba-raba kepala. Ketika siangnya buang air besar, segera ”si itu” saya korek-korek pakai lidi bambu. Syukurlah, biji itu ada di situ...

Itu sih kebetulan saja. Bayangkan kalau ternyata sudah hancur tercerna, apa saya tidak akan ketakutan berhari-hari karena was-was si biji benar-benar thukul?

Maunya bercanda atau menggoda, orang tua atau orang dewasa sering tanpa sadar menteror anak-anak.

Yah, maklumlah. Jaman doeloe kan belum ada majalah seperti Ayah Bunda atau tabloid Nakita, atau buku-buku perkembangan kepribadian seperti sekarang.

Rambut: dari Gelung hingga Potong London

Author: Therich Ninung / Label


From rambut panjang, potong bathok, gelung, kucir, krool, hingga potong London. Itulah gaya-gaya rambut Djokja tempo doeloe. Sampai tahun 1980-an, masih sering kita lihat ibu-ibu mengenakan kain jarik. Otomatis, tatanan rambutnya ya spesial. Gelungan. Sekarang, busana dan tatanan rambut seperti itu masih bisa kita lihat di pasar-pasar tradisional. Banyak wanita desa yang masih melestarikan pakaian dan gaya rambut tersebut.

Selain gelung, banyak gaya rambut bermunculan di Djokja. Kira-kira sekitar tahun 68-an, bersamaan dengan masuknya TV, gaya rambutpun mengalami perkembangan pesat. Televisi tahun 1970-an menayangkan iklan-iklan asing yang menampilkan wanita-wanita cantik berambut gaya. Ada yang keriting, potong bob, agogo, dan lain-lain. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan lain-lain, rambut keriting sangat diminati dan menjadi trend. Iklan hairspray banyak ditayangkan. Salah satunya hairspray Corina. Tapi, lain Jakarta, lain pula Djokja waktu itu. Hanya para remaja dan gadis muda yang berani ikut-ikutan trend mode rambut. Para ibu belum punya keberanian untuk ikut trendy. Meskipun mungkin pengin banget.

Gaya rambut keriting inilah yang membuat para gadis berani memotong rambut di atas bahu karena gaya rambut keriting yang populer adalah rambut pendek. Tentu saja musti pendek, karena mengeriting rambut panjang pasti butuh biaya dan waktu lebih banyak. Terlebih, waktu itu tehnologi mengeriting rambut belum secanggih sekarang.

Gadis-gadis yang memilih berambut keriting termasuk berani melakukan perubahan radikal. Biasanya terbatas gadis-gadis yang berasal dari keluarga berada dan modern. Selain biaya mengeritingkan rambut lumayan mahal, sementara orang beranggapan gadis yang anggun adalah gadis yang berambut panjang tergerai atau dikepang. Gadis yang konvensional tentulah tidak berani beda dengan yang mainstream.

Selain model rambut krool atau keriting, berkembang model rambut Bob. Ada yang bilang, dikebob. Potongannya pendek dan kelaki-lakian. Tapi, anak-anak perempuan keluarga modern dan kaya banyak dipotong dengan style tersebut. Gaya rambut Bob dikenal dengan potongan London (baca: Londen). Salon London yang hingga kini masih ada di Jalan Bayangkara, Ngupasan, termasuk salon pertama yang memperkenalkan model rambut pendek atau bob itu. Setidaknya, bagi mereka yang tinggal di wilayah Yogya tengah dan selatan.

Sebelum tahun 1975, beauty salon masih sangat jarang dan tidak semua orang berani ”masuk.” Padahal, potong London lagi mode banget. Banyak anak minta dipotong model itu. Orang tua yang direngeki bingung. Akhirnya, nekad ambil tempurung kelapa, menelungkupkannya di kepala si anak, dan dengan semangat langsung beraksi memangkasi rambut-rambut yang tidak tertutup. Jadilah potong ”London” nan irit.

Tidak semua gadis kecil atau remaja mau di ”potong London.” Rambut panjang kepang dua dengan pita atau kucir air mancur di tengah untuk gadis kecil, tetap saja dibilang funky. Tapi anehnya, rambut pendek semakin menjadi-jadi. Sebenarnya rambut pendek memang impian lama para wanita kaya. Mereka pernah nonton film-film kolosal MGM sebelum tahun 60-an. Banyak yang mengidolakan Deborah Kerr, Grace Kelly, dan bintang-bintang film Barat yang waktu itu sering mereka lihat di bioskop. Bahkan, banyak yang mengoleksi foto-foto mereka. Pantas kan kalau lantas pengen meniru gaya rambut para bintang tenar itu? Tapi, impian itu pastilah cuma dipendam, terlebih ketika Bung Karno menyatakan perang melawan budaya Barat dan meneriakkan ”Go to hell, Yankee!”

Nah, ketika gaya rambut pendek booming, impian terpendam itu langsung dimanifestasikan di kepala putri-putri mereka. Itu untuk keluarga kaya. Trend rambut pendek semakin populer karena didukung oleh kalangan bawah. Tapi bukan karena mode. Banyak gadis kecil terpaksa digunduli atau dipotong cepak gara-gara kutu rambut. Biar tidak malu berkepala gundul, mereka dikerudungi taplak meja yang dibentuk topi. Lengkap dengan peniti di sana-sini.

Kutu rambut memang identik dengan kemiskinan. Gadis gundul tidak bisa merasa malu karena malu itu milik orang kaya. Si ibu tidak peduli anaknya suka atau tidak. Yang penting kutunya hilang. Waktu itu obat kutu rambut belum ditemukan. Menggundul rambut merupakan solusi yang murah meriah namun sebenarnya menyakitkan si anak. Anak sering diolok-olok teman-teman mereka ketika sekolah atau bermain. Sampai-sampai, waktu itu ada lagu yang biasa dinyanyikan anak-anak jika ada pesawat melintas,

Montor mabur njaluk korane, Bocah gundhul, akeh tumane.
(Pesawat, minta korannya. Anak gundul banyak kutunya.)

Obat kutu rambut, Peditox, benar-benar dewa penolong para gadis tempo doeloe. Bisa melenyapkan kutu dan kor-kornya dalam semalam. Juga, shampo Hi Top dan Tancho dalam sampul kertas pada awal tahun 70-an. Ketiganya benar-benar tuntas memberantas kutu yang dituduh membuat gadis-gadis jadi bodoh dan tidak sehat serta disingkiri teman-teman mereka. Ketiganya juga melenyapkan, meski perlahan, budaya ”didis” dan ”petan” di kalangan perempuan. Alias, nyari telur kutu dan kutu di rambut teman, sambil ngobrol dan bergossip-ria. Hakuna matata.

Rambut Pria
Gaya rambut pria atau cowok, lain lagi. Pernah mencermati bagian belakang iket atau topi tradisional Yogya? Ada bagian yang disebut ”mondholan” atau bulatan sebesar telur. Sebenarnya, mondholan itu imitasi gelung rambut. Dulu, para pria Djokja berambut panjang dan jika lagi beraktivitas, rambut tidak digerai tapi digelung. Jika mereka mengenakan iket atau topi, gelung itu diperlihatkan. Mungkin karena dirasa kurang praktis dan ingin tampil keren seperti Londo, banyak pria memberanikan diri berambut pendek. Agar jika mengenakan iket tetap tampak keren, iket praktis pun diciptakan dengan aksesori gelung imitasi berbentuk mondolan.

Potong cepak atau pronthos selanjutnya lebih populer diantara kaum pria dewasa. Bersamaan dengan trend itu, berrmuncullanlah tukang cukur atau barber dengan peralatan yang lumaya oke. Pisau cukur, hair spray, dan bahkan meja cukur serta kursinya semua imporan. Karenanya, tidak sembarang pria berani pergi ke tukang cukur. Solusinya potong di di tukang cukur ”pithingan,” di bawah pohon beringin seputar alun-alun atau di tepi jalan yang ada pohon rindangnya.

Selain potong pronthos, pada tahun 1964-an, ada gaya Beatle. Seperti namanya, gaya rambut ini menirukan gaya rambut para personil The Beatles. Karena berbarengan dengan revolusi kebudayaan dan pelarangan Wetern culture, gaya rambut Beatle cepat menguap bersama gaya sepatu Beatle, celana Beatle yang ciut di bawah, dan lain-lain yang berbau Amerika dan Barat. Pelarangan itu sangat keras. Mirip-mirip gaya Mao. Sering anak-anak muda dikejar-kejar polisi untuk kemudian pipa celananya disobeki dan rambutnya diperonthosi tanpa ba-bi-bu. Hak azasi? No way!

Hebatnya, pada tahun 1970-an hingga awal 80-an, justru berkembang trend rambut gondrong. Rambut gondrong identik dengan freedom karena gaya itu ditiru dari para personil band-band underground. ”Ngeground dong!” jadi gondrong... Para orang tua bengok-bengok, para guru alok, menentang gaya rambut itu. (lupa ‘kali kalau kakek-kakek mereka berambut panjang dan gelungan). Anak-anak SMA de Britto adalah satu-satunya anak sekolah yang bebas bergaya rambut ini.

”Wah, slebore anyar!” adalah ekspresi umum tempo doeloe untuk mereka yang baru saja potong rambut. Potong rambut kayak istimewa banget. Memang iya. Tahu nggak, orang tua Djokja tempo doeloe jarang membawa anak laki-laki mereka ke tukang cukur. Eman-eman uangnya. Si anak cukup disuruh duduk, kepalanya ditelungkupi tempurung kelapa, dan kres... kress... kress... beres. Keesokan harinya di sekolah dan arena bermain, dia bakal jadi bahan olok-olokan teman-teman, ”Ha... potong bathok!” Keesokan harinya lagi... dia bisa ganti ngeledekin temannya dengan ledekan yang sama. So, no big deal. Meski potong bathok, tetap aja “bagus” kok!

Potong Bathok dan Si Ayu

Author: Therich Ninung / Label

Pengilon atau cermin seperti ini, siapa yang mau beli? Tergantung, ”Kapan”? Sekarang sih, dilirik saja tidak. Bahkan, dianggap barang yang sudah ”almarhum.” Meski, di suatu sudut pasar tradisional Yogya, kita masih bisa menemukannya. Tapi, tunggu dulu. Pada tahun 1960-1975-an, cermin yang beken dengan nama ”pengilon” ini, jadi idola wanita Djokja lho. Pada masa itu, keluarga-keluarga yang cukup berada biasanya memiliki sarana bercermin yang memadai, misalnya meja rias atau cermin pada pintu lemari pakaian. Lain halnya dengan keluarga-keluarga kurang mampu. Bagi mereka, cermin berbentuk persegi yang diberi gantungan atau standard dari kawat seperti tampak pada foto, asyik juga buat ngilo dan memandang wajah sendiri.

Pengilon bisa digantungkan di dinding atau distandarkan di atas meja. Ukurannya pun macam-macam. Ada yang 8 cm x 10 cm, alias kecil. Harganya jelas separo dari yang terlihat di foto, ukuran 20 cm x 25 cm. Relatif murahlah. Dan, pengilon cenderung disayang-sayang. Meski udah pernah jatuh dan sudutnya pecah atau bahkan cuil, si pemilik tetap sayang membuangnya. Setia musti sudah jelek dan karatan bingkainya. ”Buruk rupa, cermin dibelah,” benar-benar nggak berlaku di Djogja. Selain, tentu saja karena alasan belum punya uang buat beli penggantinya.

Cermin yang model ini lebih kuno lagi. Cermin buatan akhir abad ke-19 ini dimiliki oleh wanita dari keluarga kelas menengah yang punya akses ke kraton. Misalnya keluarga yang punya putri keparak atau penari kraton, abdi Dalem, dan yang sering wira-wiri ke raton dan tahu di dalam ada apa. Atau, paling tidak sering bertandang ke ndalem para bangsawan. Jadi tahu, seperti apa saja barang-barang yang mereka punya.


Pengilon ini dimaksudkan sebagai tiruan kaca rias yang biasa dimiliki oleh para putri Sultan. Tapi, jangan berpikir memiliki kaca rias yang sama. Orang ”pidak pedarakan” (rakyat jelata) waktu itu benar-benar tidak berani menyamai barang-barang, meniru gaya, mengenakan pakaian, para junjungan mereka. Takut kuwalat. Meniru modelnya saja, nyerempet-nyerempet coraknya apalagi, sungguh tidak berani. Maka, bisanya Cuma buat miniatur yang dimodifikasi sendiri. Karena punyanya wong cilik, ya sebaiknya kecil wae. Sengaja tidak didisain besar dan pakai dhingklik (kursi kecil tanpa sandaran) seperti pemilik asli. Itu lagi, karena wong ciliki mustinya duduk di bawah, tidak di atas.


Pengilon seperti ini sangat berharga dieranya. Seringkali, bahkan diletakkan di bilik atau senthong. Selain sebagai kaca rias, pengilon model ini juga difungsikan sebagai cermin untuk ritual. Karenanya, letaknya di tempat terhormat dan tidak digunakan untuk sembarang kesempatan.


Pengilon ini merupakan koleksi pribadi seorang wanita yang tinggal di barat Kemandungan Kraton Yogyakarta. Dibuat oleh seorang abdi Dalem undagi Kraton Djokja. Karenanya, sang paman, Raden Riyo Resosetika, memiliki referensi model kaca rias yang ada di dalam kraton dan sengaja membuat miniaturnya untuk mengungkapkan kebahagiaan atas kelahiran keponakan tercinta pada tahun 1899. Abdi Dalem Undagi adalah staf pengukir kraton yang diberi tempat domisili di wilayah Undagi (sekarang Dagen, barat Malioboro).


Geli dan nggak percaya kok ada yang kayak gitu? Sekarang, kemana kita pergi, selalu bawa compact powder di tas. Praktis dan prekis. Heran, sebegitu pendeknya sejarah cermin di kota yang punya kraton ini? Itu mah baru pengilon, kaca rias. Trus, gimana dengan perlengkapan make-upnya?


Siapa tidak kenal Ibu Mooryati Soedibyo, ibu yang bikin gadis-gadis Indonesia tampil anggun dan cantik dengan produknya, Mustika Ratu? Apakah di Djokja juga ada resep-resep istimewa untuk perawatan tubuh dan ramuan kencatikan seperti yahg diwarisi Ibu Moeryati dari kraton Solo? Kayaknya nggak. Kalaupun ada, itu sangat terbatas, mungkin hanya di dalam kraton. Karena, nampaknya Djokja bukan tempat asalnya adibusana dan adisarira.


Wanita Djokja,sejak doeloe, tidak modis dan malah cenderung lugu. Perlengkapan make-up dan perawatan tubuh tidak seberagam yang biasa dimiliki atau digunakan wanita Surakarta. Cukup tiga serangkai: bedak, benges, dan celak. Udah gitu, pakainya hanya pas jagong manten (kondangan manten). Itupun hanya disaputkan tipis-tipis.


Di tahun 70-an, kalau ada seorang wanita mengenakan bedak atau lisptik tebal padahal bukan istri pejabat atau masih keturunan ningrat, dia bakal dijuluki ”Nona/ Nyonya Wilem, ” alias ”dijawil gelem.”

Benges atau lipstick dianggap mewah dan mahal. So, jelas dieman-eman. Pakainya sedikit-dikit, tidak dioleskan tebal-tebal ke bibir. Lipstick cukup didulit pakai ujung kelingking, dan disaputkan tipis-tipis ke bibir. Kuas bibir alami, gitu ceritanya. Dan, satu lipstick dipakai bareng-bareng sekeluarga. Kadang satu tahun nggak habis. Kalau terpaksanya tinggal sedikit, nggak didulat-dulit lagi tapi diculak-culek sampai ke dasar wadahnya.

Wanita Djokja mengenakan make-up tipis-tipis, statusnya hanya untuk memperindah dan membuat lebih ”macak,” bukan untuk mengubah penampilan. Para wanita yang mengenakan make-up tipis-tipis dianggap ”ayu,” cantik luar-dalam karena tidak mengekspose kecantikan badaniah. Sedangkan mereka yang mengenakan make-up tebal dan vulgar, disebut ”kemayu,” atau kenes, atau identik dengan wanita murahan.

Bedakanpun nggak perlu pakai foundation. Bisa ketebalan. Nanti dibilang topeng lewat. So, cukup bedak tabur. Merck bedak tabur yang waktu itu populer adalah Marcks. Tapi, tidak semua wanita punya cukup uang bahkan buat membeli satu dos bundar bedak Marcks seperti itu. Banyak wanita berusaha membuat bedak sendiri. Namanya bedak adem, berupa butiran tepung kecil-kecil. Yang makainya musti dicairkan pakai air mawar dulu. Hasilnya, putih kekuningan dan halus. Tapi, kalau pas jerawatan dan pakai bedak dinginnya ketebalan, wuah... wajah bisa jadi kayak kupasan nanas.


Kehadiran bedak Viva dengan kemasan plastik merupakan solusi jitu dan inovatif. Kehadirannya nyaris berbarengan dengan bedak padat. Tapi, kebanyakan orang menganggap Viva lebih praktis dan ekonomis. Nyaris semua ibu rumah tangga Djokja memilih Viva. And toh, bedak padat tetap laku di kalangan yang lebih mapan ekonominya. Akhirnya, compact powder lebih disukai karena mudah dibawa-bawa dan ada cerminnya. Kemasan bedak padat juga menggeser popularitas pengilon atau cermin.

Habis Gelap Terbitlah Terang

Author: Therich Ninung / Label

Kembali ke kisah perlampuan dan penerangan di Jogja, khususnya tempo doeloe.


Di bilangan Taman Siswa, sekarang ini, mana ada rumah tanpa listrik? Anda yang kost atau berdomisili atau asli warga wilayah itu pasti lebih tahu. Tapi, tahu nggak, kapan sebenarnya listrik atau ANIM pertama kali masuk ke wilayah itu? Konon pada tahun 1922. Setidaknyal itu menurut Pak Pandam yang lahir di Golo. Beliau lahir pada hari Minggu Wage, 19 November 1922 di Golo, Nyutran. Sekarang termasuk Tamsis. Oleh kakeknya, seorang abdi dalem (prajurit Kraton Jogja) dari wilayah Nyutran yang bernama Raden Panji Rahwana, dia diberi nama Soepandam (baca: Supandam) karena lahir berbarengan dengan dipasangnya lampu ajaib, lampu super, alias listrik, di wilayah itu. Nama itu diberikan karena ”pandam” (bahasa Sanskerta) berarti lampu. Sedangkan awalan ”Su” berarti super atau istimewa, atau bahasa Jawanya ”linuwih.” Tentu saja kakeknya tidak sekedar mengabadikan momentum ketika listrik masuk wilayahnya. Eyang Panji Rahwana pasti juga berharap si cucu menjadi penerang hati seluruh anggota keluarga dan siapapun yang dekat dengannya.


Listrik Masuk Desa


Warga lama kota Jogja dan mereka yang pernah berada di Jogja sebelum ada listrik mungkin sampai lupa seperti apa rasanya hidup belasan atau puluhan tahun tanpa sarana penerangan ini. Yang jelas, kalau sekarang ada pemadaman listrik tiba-tiba, orang langsung mengeluh dan tidak happy. Bahkan ada yang sampai sesak nafas. Padahal, ratusan tahun Jogja gelap gulita dimalam hari.


Kehadiran Listrik 220 Volt pada sekitar tahun 1978 (yang terjangkau oleh hampir seluruh lapisan masyarakat baik di kota maupun desa) sungguh merupakan keajaiban yang tak terlukiskan (Terimakasih, Pak Harto!) Jogja benar-benar benderang oleh si”dua-dua-nol”. Listrik memungkinkan anak-anak belajar pada malam hari, menyetel radio tanpa batu baterai, dan menghadirkan pesawat televisi ketengah-tengah keluarga. Orang tidak lagi takut keluar malam, roda perekonomian dan keidupan luas berubah drastis menuju kemajuan.


Peralatan kerja bertenaga listrik memajukan perekonomian dan industri rumahan. Mesin jahit yang sebelumnya harus digenjot pakai dua kaki dan kurang efektif serta-merta digantikan dinamo yang jauh lebih murah dan cepat. Tukang kayu tidak lagi krenggosan menggergaji atau menyerut menggunakan pasah konvensional yang hasilnya tidak maksimal. Masyarakat untuk pertama kalinya bisa menikmati es lilin dan es Apollo. Listrik memungkinkan keluarga-keluarga berada membeli kulkas atau lemari es. Para ibu rumah tangga menjadikannya peluang untuk cari tambahan income dengan membuat es yang kemudian diedarkan oleh para tetangga, anak-anak yang tidak bisa melanjutkan sekolah, atau dititipkan di warung-warung di kampung-kampung.


Kehidupan benar-benar bagai disulap dan menjadi serba ajaib. Life-style masyarakat Jogja berubah total. Perubahan radikal terjadi di segala aspek kehidupan. Seperti kata Ibu Kartini, ”Habis gelap terbitlah terang...”


Selain yang serba postif, tentu saja ada juga dampak negatif listrik. Kecelakaan karena tersengat listrik kerap terjadi pada masa-masa awal kehadiran listrik 220 V itu. Korban meninggal karena kesetrom tidak sedikit. Ohya, konon, katanya lho, bagi para makhluk yang tidak kasat mata, listrik membawa petaka. Berbagai gendruwo, hantu, wewe gombel, dan sebagainya, jadi kehilangan kenyamanan dan keademan mereka. Panasnya listrik dan suasana benderang membuat mereka menjauh dari kehidupan manusia. Tinggallah kini kisah-kisah mereka yang kemudian diangkat dalam sinetron-sinetron TV yang bisa kita tonton berkat adanya listrik... .


Sekarang, listrik bagai dihambur-hamburkan. Padahal, sudah ada warning keras tentang global warming.